Home Ekonomi Antisipasi Produk, Sesmenkop : Bentuk Asosiasi KUKM Pengguna Merek Kolektif

Antisipasi Produk, Sesmenkop : Bentuk Asosiasi KUKM Pengguna Merek Kolektif

SHARE
MEREK KOLEKTIF - Unpad Gelar Seminar Nasional Penggunaan Merek Kolektif atas Produk Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah untuk Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Kreatif Nasional yang berlangsung di Trans Luxury Hotel Jl Gatot Subroto, Bandung, Selasa (29/8/2017).

Balkot.com, Bandung – Sekretaris Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Agus Muharram prihatin dengan banyaknya produk UKM Indonesia yang tidak punya hak atas hasil karyanya sendiri. Hasil produksi berlabel milik pemodal, bahkan negara pemodal.

Agus Muharram mengatakan hal tersebut saat jadi keynote speaker di acara Seminar Nasional Penggunaan Merek Kolektif atas Produk Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah untuk Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Kreatif Nasional yang berlangsung di Trans Luxury Hotel Jl Gatot Subroto, Bandung, Selasa (29/8/2017).

Peserta seminar 200 orang, semuanya adalah pegiat koperasi dan usaha kecil menengah.

Pembicara lain yang mengisi acara tersebut adalah Deputi Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM I Wayan Dipta, Ketua Umum Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Aun Gunawan, Dosen Luar Biasa Hukum Universitas Padjajaran (Unpad), Ranti Fauza Mayana Tanwir dan Poppy Fauza Mayana

“Saya sarankan agar UKM Indonesia untuk membentuk asosiasi KUKM pengguna merek kolektif,” kata Agus Muharram.

Agus Menyarankan seperti itu karena dia menyadari mengurus hak merek atas suatu produk itu waktunya tidak sebentar. Dan Agar hasil karya KUKM tersebut tidak hilang alias, diakui dengan merek lain lebih baik bentuk asosiasi KUKM pengguna merek kolektif.

“Dengan bergabungnya pegiat produk tertentu dalam satu wadah produk –tentunya dengan produk yang sama juga diharapkan hasil kerja para pelaku KUKM tidak akan hilang atau diambil orang lain,” jelas Agus Muharram.

GRATIS

Deputi Produksi dan Pemasaran Kemenkop UKM I Wayan Dipta membenarkan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia butuh waktu yang lama untuk mengurus hak merek.

“Jadi tidak masalah kalau ada ide agar pelaku KUKM berhimpun dalam satu wadah untuk menggunakan merek secara kolektif,” katanya.

Walau demikian kalau KUKM ingin mendaftarkan sendiri produknya juga tidak masalah dan kementerian koperasi siap membantu, tetapi untuk waktu agar merek tersebut bisa disahkan tetap menjadi kewenangan kemenerian hukum dan hak asasi manusia.

“Kita sudah MoU dengan Kemenkumham untuk membantu KUKM yang ingin mendaftarkan hak merek produknya,” jelas Wayan didampingi Malik, staf yang mengurusi bagian hak cipta dan merek.

Lewat kerjasama tersebut, KUKM yang ingin mengurus hak cipta atas produk yang dihasilkannya, gratis. Biaya pendaftaran hak cipta dan hak merek ditanggung Kemenkop dan UKM.

Biaya pendaftaran Hak Cipta yang ditanggung Kemenkop UKM Rp 400 Ribu. Adapun biaya hak Merek yang ditanggung Kemenkop UKM Rp600 Ribu.

“Kalau mengurusnya lewat rekomendasi dari kepala dinas di wilayahnya masing-masing tetap ada biayanya,” jelas Malik. Untuk waktu pengurusan hingga hak cipta dan hak merek selesai tetap menjadi wewenang Kemenkumham.

JOINT MARKETING

Marketing dan Manajemen Stratejik dari Universitas Padjajaran, Poppy Rufaidah mengatakan mengingat masih rendahnya kesadaran pelaku KUKM untuk mendaftarkan hak cipta dan merek produknya maka perlu dilakukan langkah-langkah kongkrit.

“Jadi perlu segera dilakukan suatu langkah kongkrit dengan mengadakan pelatihan-pelatihan mengadakan sosialisasi-sosialisasi tentang betapa pentingnya tentang pendaftaran merek dan pendaftaran merek secara kolektif,” kata Poppy

Keuntungan mendaftarkan merek secara kolektif, kata Poppy, selain bisa mendapatkan biaya yang lebih murah juga bisa dilakukan dengan cara joint marketing.

Dengan joint marketing, jelas Poppy lagi, keuntungannya juga berlipat, karena pemasarannya juga bisa dilakukan secara bersama-sama apalagi KUKM jangkauannya sangat luas, tersebar di seluruh Indonesia.

“Jadi biayanya murah, jangkauannya luas, juga bisa dilakukan dengan joint marketing,” tutupnya. (Achmad Ariesmen)