Home Ekonomi Apakah WP Bisa Mendapatkan KUR Senilai Rp200 Juta?

Apakah WP Bisa Mendapatkan KUR Senilai Rp200 Juta?

SHARE
Teti Cahyati, owner TSA Collection memperlihatkan piagam penghargaan yang telah berhasil diraihnya, piagam tersebut didapat dari Gubernur Jawa Barat

Balkot.Com, Bandung – Bisakah wirausaha pemula (WP) mendapatkan, kredit usaha rakyat (KUR) dengan nilai seratus sampai dua ratus juta rupiah, kalau tidak apakah ada opsi lain, misal dana talangan, untuk modal kerja. Waktu pinjam, satu atau dua bulan.

Itulah keinginan Teti Cahyati, pemilik ataya collection atau tsa collection yang tempat usahanya berada di kawasan Cicaheum –Kelurahan Jatihandap, Kecamatan Mandalajati, Kota Bandung.

“Order yang saya dapat, kalau untuk pekerjaan dari pemerintah biasanya tidak ada dp (downpayment). Padahal modal kerjanya bisa mencapai 100-200 juta rupiah,” kata Teti di rumah produksinya Jl Jamaras 3 No220, Bandung, Sabtu.

“Jadi kalau nilai pinjaman dari pemerintah hanya Rp25 juta. Menurut saya tanggung. Itu makanya, saya kalau bisa mendapatkan pinjaman dalam bentuk dana talangan,” jelasnya.

Pekerja di TSA Collection tengah bekerja menyelesaikan pesanan

Saat kunjungan dilakukan Teti tengah mendapatkan pekerjaan membuat baju kaos ratusan peace order dari Pemprov Jabar, order dari baju kaos dari paytren, dan banyak lainnya.

Selain menggarap pekerjaan busana yang model-modelnya dari pelanggan, Teti juga punya busana-busana karyanya sendiri, busana muslim seperti baju gamis, dengan brand tsa collection.

Dulu Brand busana karya Teti, Ataya Collection, tetapi saat daftar hak merek ternyata nama tersebut sudah digunakan wirausaha dari luar negeri.

“Mau tidak mau saya ganti, padahal orang tahunya Ataya dari pada Tsa collection,” jelasnya.

Dari usaha collection yang sudah digelutinya sejak 2012, Teti, saat ini sudah bisa mendapatkan keuntungan per bulan rata-rata Rp40-Rp50 juta. Uang yang tidak akan pernah dia dapatkan kalau masih menggeluti profesi sebagai guru taman kanak-kanak (TK),dan guru sekolah dasar (SD).

“Kalau sekarang, saya juga masih ngajar, tetapi ngajar ngaji,” katanya.

Dengan usaha Ataya atau Tsa Collectionnya, Teti saat ini juga sudah bisa menggaji 17 pekerja, 7 pekerja borongan. Selain itu juga memiliki 13 mesin jahit, 3 mesin potong, 6 mesin obras, 2 mesin overdeck dan 2 steam.

“Semua saya siapkan agar saya masih bisa mendapatkan fresh money dari pekerjaan pekerjaan harian,” kata alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Trik untuk mengatasi modal kerja yang sangat besar, yang saat ini bisa dilakukan Teti adalah pinjam dari keluarga besarnya.

“Saya takut pinjam dari rentenir. Takut nggak berkah usaha saya, selain itu bunga dari pinjamannya juga terlalu besar,” katanya.

Pekerja di TSA Collection tengah bekerja menyelesaikan pesanan

Cara lain menutup modal, adalah mengambil order dari swasta seperti order dari Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Order dari pulau Sumatera itu sudah di dapat Teti di awal-awal memulai usaha, sejak tahun 2012.

“Dari Siak, ada DP nya. Order nya besar lagi,” katanya.

Order dari, beberapa provinsi di Indonesia, di dapat Teti berkat rajin mengikuti pameran-pameran. “Saya lebih banyak order offline,” kata Teti yang juga Bendahara di Koperasi Wirausaha Baru Jawa Barat Sejahtera (WJS).

Saat ini, pameran sudah jarang mengikuti kegiatan pameran, menurutnya pengunjung pameran saat ini sudah tidak murni buyer, lebih banyak pengusaha yang ingin mencontek model busana. (Ris)