Home Komunitas FFJB 2017 Digelar Dago Tea House Bandung

FFJB 2017 Digelar Dago Tea House Bandung

SHARE
Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar (Demiz) didampingi Sekdisparbud Jabar Agas Hanifiah, Kabid Industrikreatif Edy Setiadi dan Koordinator Kreator FFJB 2017 Budy Roy, di ruang Manglayang, Gedung Sate, Kamis (14/12).

Balkot.Com, Bandung – Sineas senior Indonesia, Deddy Mizwar (Demiz) yang juga Wakil Gubernur Jawa Barat, menyambut positif penyelenggaran Festival Film Jawa Barat (FFJB) ke III-2017. Mengingat hal tersebut bisa menumbuhkembangkan kearifan lokal.

Giat ini mengikut sertakan ratusan film terdiri dari 289 film pendek katagori umum, 74 film pendek kategori pelajar, dan 33 kategori video music.

“Jawa Barat merupakan satu-satunya provinsi di Indonesia yang menyelenggarakan festival film, kata Demiz didampingi Sekdisparbud Jabar Agas Hanifiah, Kabid Industrikreatif Edy Setiadi dan Koordinator Kreator FFJB 2017 Budy Roy, di ruang Manglayang, Gedung Sate, Kamis (14/12).

Dengan diberikannya ruang kepada para sineas dan komunitas film di Jawa Barat, komunitas film terus bertambah, hal yang sama juga berlaku bagi penonton film.

“Tahun 2015, jumlah komunitas film ada 500, tahun 2016 naik seratus menjadi 600 komunitas dan tahun 2017 ini sudah hampir seribu komunitas,” katanya.

FFJB 2017 adalah ruang berkarya dan berkreasi bagi 1.000-an komunitas film di Jawa Barat. Melalui FFJB sineas-sineas muda dari Jabar, terus berkarya, dan menyemarakkan kembali nilai-nilai kearifan lokal.

Acara puncak FFJB 2017 akan dilaksanakan pada 15-16 Desember 2017 di Teater Tertutup Balai Taman Budaya Jabar atau Dago Tea House Bandung.

Kegiatan ini juga dirangkai dengan pengumuman hasil kompetisi FF Pendek Tk Jabar dan pemberian hadiah Film Nominner I sampai III dan 1 (satu) Video Musik Nominner di Tingkat BKPP.

Selain itu juga ada, pemberian hadiah 7 (tujuh) kategori FF Pendek Tingkat Jabar berupa Tropy dan Uang Pembinaan.

Demiz juga mengatakan pada FFJB 2017 ini, Pemprov Jabar tidak menentukan tema, baik untuk short movie maupun Music Catagories.

Hal ini dilakukan, agar sineas Jabar bisa berkarya sebebas mungkin, yang harus diingat hasil karya tidak berbau SARA dan pornografi termasuk berisikan politik.

“Dengan adanya ruang berkarya dan FFJB, kita harapkan para sineas muda miliki pengetahuan yang baik mengenai film bermutu, dan mendorong lahirnya film-film bermutu di Indonesia. Selain itu, dapat menumbuhkan minat industri film, termasuk pertumbuhan bioskop di Jawa Barat.

Terkait industry Film Pendek, kini dibeberapa daerah mulai timbul bioskop baru yang berada di ruang publik, seperti mall dan pusat perbelanjaan. Bahkan baru-baru ini, telah hadir bioskop baru di Kota Banjar dan selanjutnya di Cianjur, kedepan berdiri bioskop diGarut dan Kota Sukabumi. Selama 2017, katanya berdiri empat bioskop baru di Jawa Barat.

Selain itu, dengan kemajuan teknologi, sekarang film bisa diluncurkan di tanggal bahkan jam yang sama, baik di New York, Jakarta, atau Kota Banjar, bisa main di waktu bersamaan,” katanya.

Ditambahkan Budy Roy (coordinator Tim Kreator FFJB 2017), mengatakan FFJB merupakan sarana asset Jabar dalam mencari sineas muda potensial. Sehingga cukup wajar kalau kominitas film pendek terus berkambang. Bahkan Baan Perfilman Indonesia minta data jumlah kominitas ke Jabar.

Untuk mengetahui sejauh mana keunikan dan kualitas film pendek yang masuk Nominner FFJB 2017, mari datang dan saksikan di Teater Tertutup Balai Taman Budaya Jabar atau Dago Tea House Bandung, pada Sabtu-malam, 16 Desember 2017. (Aris)