Home Sudut Kota Gerpis, Memperjuangkan Representasi Politik Orang Sunda

Gerpis, Memperjuangkan Representasi Politik Orang Sunda

SHARE
Gerakan Pilihan Sunda (Gerpis) resmi dideklarasikan di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Jl Dipatiukur, Bandung, Rabu (27/12).

Balkot.Com, Bandung – Gerakan Pilihan Sunda (Gerpis) resmi dideklarasikan di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Jl Dipatiukur, Bandung, Rabu (27/12).

Gerpis dideklarasikan untuk, menjadi wadah lahirnya kader-kader pemimpin tanah kelahiran Sunda yang mampu berkiprah baik di tingkat daerah maupun nasional.

Andri Perkasa Kantaprawira, Inisiator lahirnya Gerpis mengatakan wadah yang telah dibidaninya ini harus bisa menjadi tempat berhimpunnya orang-orang Sunda.

“Dahulu sekitar tahun 1955, orang-orang Sunda juga pernah berhimpun seperti ini. Mereka memperjuangkan representasi politik orang Sunda,” kata Andri kepada wartawan, usai deklarasi.

Oleh karenanya, orang-orang Sunda yang saat ini tengah berkiprah dalam kancah perpolitikan nasional juga harus diajak untuk bergerak bersama.

“Siapa lagi yang akan mencintai negeri dan lemah cai (daerah) kalau bukan orang yang punya ikatan genetika dengan lemah cainya,” tekannya.

“Gerpis itu bukan hanya perjuangan. Ini adalah tempat kader kader terbaik putra-putri Pajajaran anyar,” tegasnya.

Berkaitan dengan Pilkada serentak 2018, dijelaskan Andri, Gerpis mengajukan dua strategi untuk mengetahui sosok yang pantas menjadi pemimpin.

Pertama adalah karakter. Andri pun menegaskan, bahwa pemimpin kedepan harus berasal dari Sunda.

“Karakter apa yang diperlukan pimpinan Sunda di Pilgub? Kita ingin pemimpin yang lahir di Pilgub 2018 adalah Masagi. Motekar, Rancage, dan Hideng. Hideng ini yang paling susah karena alat kontrol dia mandiri dan bukan pemimpin boneka,” ujarnya.

Kata Masagi berasal dari bahasa Sunda yang berarti, seimbang, kokoh menuju kesempurnaan. Untuk menghasilkan kader yang layak jadi pemimpin, Gerpis berencana akan melakukan politik edukasi.

“Sebagai organisasi perhimpunan perjuangan kita sudah waktunya menghilangkan semua traumatik kultur bahwa orang Sunda itu penakut, orang Sunda itu elehan (kalahan),” pungkasnya. (Aris)