Home Politik JK : Berbahaya Kalau Masalah Ekonomi dan Politik Dibawa ke Isu Agama

JK : Berbahaya Kalau Masalah Ekonomi dan Politik Dibawa ke Isu Agama

JK : Jangan Seret Masalah Ekonomi dan Politik ke Isu Agama

SHARE
JK saat menghadiri Sarasehan Nasional tentang belajar dari resolusi konflik di Maluku, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Selasa (10/7).

Balkot.Com, Jakarta – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menjelaskan banyak pihak menyebut konflik di Maluku terkait masalah agama, padahal masalah ekonomi dan politik yang kemudian dibawa ke isu agama.

“Apabila berbicara tentang konflik Maluku banyak orang menyangka bahwa itu konflik agama. Memang pada akhirnya adalah konflik agama, tapi sebabnya bukan konflik agama,” kata JK saat menghadiri Sarasehan Nasional tentang belajar dari resolusi konflik di Maluku, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Selasa (10/7).

Dijelaskan JK, masyarakat Maluku kala itu menggantungkan hidup pada hasil perikanan laut, cengkeh, dan rempah-rempah.

“Tahun 1992 terjadi penurunan harga cengkeh. Ada yang memonopoli cengkeh, maka harga cengkeh turun drastis,” ujarnya.

Turunnya harga cengkeh itu membuat pendapatan masyarakat menurun dan menimbulkan kemiskinan. Hal tersebut terjadi selama beberapa tahun dan membuat ketidakseimbangan di masyarakat.

“Di lain pihak banyak pendatang pekerja kasar, orang Makassar jadi tukang becak. Tapi kemudian karena kerajinan, mereka menjadi pedagang di pasar, sehingga jadi ekonomi sebagian dilaksanakan oleh pendatang,” ucapnya.

Pemicu lainnya, di saat yang bersamaan pada tahun 1998 terjadi reformasi yang membuat sistem politik menjadi terbuka. Maka timbullah ketidakharmonisan karena demokrasi yang terbuka.

“Kesalahannya ialah karena politik, ini supaya jadi pelajaran. Terjadilah kemudian gubernur, sekda, ketua DPR semua muslim. Wagub orang Katolik sehingga terjadilah ketidakseimbangan, jadi hasilnya terjadilah ketidakseimbangan ekonomi dan politik di masyarakat,” paparnya.

Setelah masalah ekonomi politik timbul, maka beberapa oknum kemudian mengarahkannya ke masalah agama. Konflik besar pun terjadi.

“Awal konflik itu masih berkisar ke anak muda. Satu minggu kemudian berubah dari anak muda ke Ras BBM (komunitas Bugis Makassar) menjadi agama. Setelah masing-masing berpihak kepada agama masing-masing. Kenapa agama itu mudah, karena kalau orang berperang karena agama itu tidak ada yang netral,” ucapnya.

Saat konflik yang diisukan karena agama terjadi, beberpa pihak kemudian memberi doktrin, membunuh saat perang agama imbalannya masuk surga.

“Karena itulah timbul konflik yang besar karena surga. Timbul lah konflik yang tidak bisa berakhir karena tidak ada yang netral,” tuturnya.

“Demokrasi awalnya di Indonesia itu korbannya ribuan karena the winner take off. Sehingga timbul lah masalah agama, itu karena semua orang membunuh dan dibunuh dia senang” imbuhnya.

JK pun mengingatkan, konflik yang terjadi dipicu karena masalah politik dan ekonomi, yang kemudian diarahkan ke konflik agama.

“Inilah yang menjadi pemicu bagaimana cepat konflik itu kalau disebabkan masalah agama yang sebenarnya bukan masalah agama,” pungkasnya. (^)