Home Hukum & Kriminal Kisah Cinta Willem Abraham Baron Baud (Bag.2 Tamat)

Kisah Cinta Willem Abraham Baron Baud (Bag.2 Tamat)

Ditulis oleh : Mulyana Rachman,SE

SHARE

(Di rilis oleh : Mulyana Rachman,SE)

Setelah Meninggalnya Wilhem Abraham Baron Baud , keadaan di perkebunan NV. Maatschapping Tot Eksploitati Der Onder Nemingen Dor Mr WA Baron Baud, sedikit goyah, hartanya diutak-atik saudara-saudaranya Wilhem Abraham Baron Baud, namun sesuai amanatna yang disampaikan pada Meertens agar mengalihkan hak kekayaannya kepada nama Baronesse Ida Junia Baud atau Mimosa ,sehingga perkebunan dan seluruh kekajaan milik W.Baron Baud jatuh pada Isteri dan anaknya berkat Meertens. Saat itu, ia sudah menjadi notaris ternama di Batavia.

Atas saran Gubernur Jenderal Van der Wijjck, sementara Waktu menunggu anaknya WA.Baron Baud dewasa dan selesai sekolah di Belanda ,maka perusahaan dikelola oleh Antjiah beserta para kuasa hukumnya yang dipimpin oleh Meertens dibawah pengawasan Van der Wijjck. Dalam mengelola Perusahaan milik suaminya Antjiah atau Antje Collot di bantu oleh adiknya Bangin. Antjia juga dibantu oleh Notaris yang bernama Meertens mengelola perkebunan tersebut agar tidak jatuh Bangkrut.

Sekitar Tahun 1898 anak dari Baron Baud Baronesse Ida Junia Baron Baud alias Mimosa selesai sekolah di Belanda. Lalu Mimosa menikah dengan seorang pria kelahiran 30 Oktober 1871 di Helsinki Finlandia yang bernama Otto Harald Lincoln Furuhjelm. Mimossa menikah dengan Otto Furuhjelm pada tanggal 19 September 1899 di Nederland Belanda. Namun pernikahan mereka hanya bertahan hingga 4 tahun lamanya,dia bercerai dengan Otto pada tanggal 26 Oktober 1903 di Lojo Finlandia.

Pada tahun 1903 Mimosa pergi ke German dan bertemu dengan seorang pria berdarah German bernama Martin Wilhelm Kroll, mereka saling jatuh cinta dan mengikat perkawinan pada Tahun 1904 di Frankfurt German . Dari perkawinannya mereka mempunyai anak laki-laki Dua orang bernama Carl Heinz Kroll (08/08/1905) dan Willy Boy Kroll (tidak diketahui tanggal dan tahun lahir namun tercatat meninggal sekitar tahun 1940-1945), setelah kelahiran anaknya yang kedua itu Mimosa sudah berpisah dengan Martin, karena Martin Menghilang dan tidak diketahui kemana.(tidak ada data mencatat, dianggap hilang dalam peperangan)

Pada tahun 1907 Mimosa bertemu dengan seorang Pria Neumark yang bernama Joachim Dietrich Baron von Klitzing, lalu pada tahun 1908 tanggal 15 Desember 1908 Mimosa Menikah lagi dengan Pria ini kelahiran Neumark negara Bagian German Timur sekarang Polandia , dan ini yang menjadi suami terakhirnya. Dari Perkawinannya mereka di beri satu anak perempuan yang diberi Maria Mimosa Dietlinde Dorothea Wilhelmine Daniele von Klitzing pada tanggal 7 Oktober 1909 dan satu anak laki-laki diberi nama Wolf Dietrich Hubertus Kurt (01 Desember 1910). Dari perkawinan ke tiga ini mendapat 2 anak,jadi anak Mimosa berjumlah 4 orang yang terdiri 3 anak laki-laki dan 1 anak perempuan.Pada tahun 1919 mereka bercerai.

Pada Tahun 1920 Mimosa yang tinggal di Italia berangkat pergi ke Hindia Belanda Javaland di Jatinangor bersama 2 anak dari Baron Von Klitzing dia menemui Ibunya tercinta yang sudah puluhan tahun berpisah, 2 anaknya tidak dibawanya karena tinggal di German. Kedatangan Mimosa disambut baik penuh haru dan kerinduan dari Ibu tercintanya yakni Nyonya Besar Antje Marcolla Collot Baron Baud atau Antjiah binti Moetakin (nama Sunda).
Lalu Antjiah memperkenalkan semua jajaran yang ada di perkebunan perusahaan ayahnya Baron Baud, mulai dari Pamannya adik Antjiah yang bernama Bangin, kemudian Kuasa Hukum dan Notaris Keluarga yang bernama Meertens serta Jongos keluarga yang bernama Moestari.

Mimosa minta diantar pada Pamannya yang bernama Bangin untuk melihat makam WA. Baron Baud ,dengan diikuti jongos keluarga yang bernama Moestari, Pengacaranya Meertens dan ibunya Antjiah. Mimosa ber do’a di depan makam ayahnya,lalu dia berjanji akan meneruskan perusahaan ayahnya,dan dia bersumpah dan minta dicatat dihadapan Notarisnya Meertens agar kelak jika ia meninggal dunia ingin di makamkan di samping makam ayahnya. Lalu Meertens mencatatnya dan mendaftarkannya ke Koninginder Arsip di Belanda. (bersambung)