Home Inspirasi Kisah Cinta Wilhem Abraham Baron Baud Bag.1

Kisah Cinta Wilhem Abraham Baron Baud Bag.1

Oleh : Mulyana Ràchman, SE

SHARE

Dalam sejarah daerah Jatinangor diceritakan bahwa Baron Baud seorang tuan tanah pemilik Cultuur Ondernemingen van Maatschappij Baud di Jatinangor, memiliki seorang anak dari istri sahnya dari perempuan pribumi anak seorang Penghulu dan tuan tanah di kampoong tjibeusi dikawasan tjikeruh Tanjoengsari kademangan Soemedang, yang bernama Antjiah Kollat ada juga yang menyebutnya Antjiah Kolot.

Menurut Sumber dari Kerabatnya, Antjiah adalah putri seorang penghulu yang bernama Raden Moetakin yang masih keturunan Kademangan Soemedang,ibunya bernama Moentjiah pribumi asli dari kampoong Tjibeusi putri seorang penghulu agama Islam. Moetakin menikahi putri seorang penghulu di tjibeusi dan dia menjadi pengganti bapak mertuannya menjadi pengurus mesjid dan penghulu di kampung itu, Moetakin memiliki lahan perkebunan kopi di kampung tersebut sangat luas kurang lebih ada sekitar puluhan hektar dari pemberian orantuanya dan mertuanya.

Dari perkawinan Moetakin dan Moentjiah dikaruniai 1 orang anak perempuan dan 1 anak laki-laki, pada tahun 1836 anak perempuan Moetakin dilahirkan dan di beri nama Antjiah, dan pada tahun 1840 lahir anak laki-laki yang diberinama Bangin. Antjiah tumbuh dikampung itu seperti gadis lainnya.
Pada tahun 1854 sekitar usia 18 tahun Antjiah tumbuh menjadi gadis manis dan lucu berkulit sawo matang, dia nampak menarik seperti remaja gadis yang lugu dizamannya.

Pada suatu hari Antjiah bersama teman-temannya bermain diSungai Tjikeruh mandi dan berenang suka ria bersama teman-temanya, Namun mereka tidak menyangka ada sepasang mata bola memandang dari balik pepohonan. Ya..sepasang mata bola dari seorang pemuda bule yang saat itu sedang berburu. Dia adalah Wilhem Abraham Baron Baud, seorang merupakan anak dari Jean Christian Baud yaitu Gubernur Hindia Timur (Indonesia sekarang). Dia pemilik perusahaan NV. Maatschapping Tot Eksploitati Der Onder Nemingen Dor Mr WA Baron Baud, sedangkan WA Baron Baud sendiri lahir di Batavia (Jakarta sekarang) pada tahun 1816 ,yang membuka perusahaan perkebunan di daerah itu yang kini di sebut Jatinangor.Pemuda Kaya pemilik Perusahan Perdagangan Hasil Usaha Budi daya perkebunan ini tertarik hatinya pada pandangan pertama pada gadis pribumi tersebut.

Willem panggilan mudanya W.A. Baron Baud ini menemui Gadis Manis nan Lucu itu,lalu mereka berkenalan ditempat perburuan itu, Antjiah juga memperkenalkan dirinya lalu mereka berbincang dan bersenda gurau, lalu beberapa waktu Antjiah berpamitan akan pulang karena takut orang tuannya mencari, Wilem menawarkan jasa untuk mengantarkan pulang gadis Antjiah tersebut, Antjiah tidak menolaknya.

Sesampainya dirumah Moetakin Ayah dari Antjiah, Moetakin merasa kaget dan nampak Takut melihat seorang bule membawa senapan bersama anaknya,Ia meminta Antjia segera masuk rumah dan lalu ia bertanya pada Wilem dengan sopan seperti adat Pribumi Sunda yang penuh Kesopanan.

“ maaf siapakah gerangan tuan ini?” tanya Moetakin.

“ maaf Nama Saya Wilem Baud, saya pemilik Perkebunan NV. Maatschapping Baron baud

“ Jawab Wilem.

“Oh..Tuankah Baron Baud putera dari Governur Jendral Hindia Timur ? “ tanya Moetakin lalu dia mempersilahkan masuk tamunya.

“ Silakan masuk Tuan “ pinta Moetakin

Lalu Wilem Masuk kedalam rumah Moetakin, didalam tampak Moentjia isteri Moetakin sedang memasak untuk makan malam.

“Bu ini ada tuan Baron, bawakan minum bu” teriak Moetakin pada isterinya.
Wilem di jamu dan banyak bincang-bincang lama dengan Moetakin. Dan pada akhirnya Wilem mengatakan maksud hatinya untuk meminang Cinta pandangan pertamanya pada gadis pribumi itu.

Moetakin tak bisa menolaknya,karena jika menolaknya akan berurusan dengan Kompeni Belanda.

Dia memberikan syaratnya jika ingin meminang anaknya Wilem wajib masuk Islam dan membaca dua kalimah syahadat, hal itu tidak di tolaknya oleh Wilem yang semasa hidupnya sejak lahir hingga Dewasa banyak bergaul dengan anak-anak pribumi Batavia yang beragama Islam.

Akhirnya terjalin perkawinan saat itu antara Wilem berumur 40 tahun dengan Antjiah saat berumur 20 Tahun secara Islam dan tercatat di penghulu district Oejoengbroeng pada tanggal 9 Agustus 1857. Dan Saat itu Umur Bangin adik kandung Antjia berumur 16 Tahun saat pernikahan ini terjadi.

Setelah bersama menjadi suami isteri dari anaknya , Moetakin dan Moentjiah menyerahkan lahan tanahnya kepada Antjia untuk digarap dan di kerjasamakan dengan perusahaan suaminya NV. Maatschapping Baron baud itu, Dia menitipkan Bangin Adiknya Antjiah untuk ikut bersamanya bekerja di perkebunan tersebut saat Bangin sudah cukup dewasa.

Dari beberapa sumber yang ditemui, mengatakan bahwa Antjiah diberi nama panggilan oleh Wilem yaitu dengan Panggilan Makola dan tercatat menjadi nama belakang Antjiah Makola atau disebut juga Antjiah Kolot dan di Belanda tercatat namanya jadi Antje Collot, Setelah 18 tahun lamanya Antjiah berumah tangga maka baru pada tahun 1876 dikaruniai anak,maka Antjiah pada usia 39 tahun lahirlah seorang anak perempuan pada tanggal 1 juni 1876 yang ia beri nama Baronesse Ida louise Junia Baud dan mendapat nama panggilan seperti ibunya dipanggil Antje Collot, maka Ida Louise Junia Baud dipanggil “Mimosa” yang berarti Rumput karena Wilem menyukai Rumput yang indah.

Karena Kesibukannya antara Perusahaan dan keluarga ,kemudian wilem mengangkat adik Antjiah yang bernama Bangin menjadi Mandor Perkebunan,karena saat itu umur Bangin sudah cukup dewasa. Semenjak itu Bangin menjadi mandor tetap diperkebunan tersebut.

Cerita Cinta ini tidaklah berjalan mulus,karena Suatu saat setelah istrinya melahirkan anak pertamanya, Wilem dikunjungi saudara saudaranya dari Eropa sekitar tahun 1878. Rupanya telah terjadi perselisihan yang berujung pertengkaran antara Wilem Abraham Baron Baud dengan saudara saudaranya dari Eropa tersebut tentang hak waris kekayaannya. Saudaranya itu mengamanatkan segera menurunkan hak warisnya kepada Mimosa. Akibat dari pertengkaran tersebut Baron Baud baru memikirkan pewarisan tanah perkebunannya di Jatinangor.

Oleh karena itu ia memutuskan untuk pergi ke Buitenzorg (Bogor ) menemui seorang ahli hukum bernama Meertens. Bersama Meertens kemudian Baron Baud dan Antja Kolot serta anaknya Mimosa yang saat itu berusia sekitar 2 tahun. Terjadi kisah yang mengharukan antara Baron Baud dengan Nyai Antja Kolot dan Mimosa. Setelah ditentukan kemudian Mimosa disahkan secara hukum agar menjadi Warga Negara Hindia Belanda, karena anak sah dari Baron Baud dan Antje. Mimosa harus di Bawa ke Batavia dengan perwalian dan di baptis menjadi Khatolik. Mimosa meronta-ronta menolak dibawa ke Batavia akan tetapi Antja Kollot berusaha membujuknya.

Pada tahun 1879 Wilhem Abraham Baron Baud meninggal Dunia dan dimakamkan di Jatinangor Dekat Kantor utamanya. Kesedihan menyelimuti Antje Collot karena ditinggal sang kekasih dan Mimosa kehilangan Wali. Atas saran Gubernur Jendral kala itu maka Mimosa kecil diasuh dibawah perwalian Horra Siccema mantan anggota Raad van Indie. Setelah memasuki usia sekolah Mimosa kemudian disekolahkan di sekolah anak anak di Batavia, dan Hora Siccema menjadi Walinya.

Beberapa tahun setelah Mimosa bersekolah di Batavia kemudian Mimosa dikirim ke Belanda untuk meneruskan sekolahnya. Saat itu ia bisa kuliah di Belanda karena telah menjadi kaya raya akibat harta warisan dari Baron Baud berupa perkebunan Jatinangor. (Bersambung)