Home Ekonomi Lima Panel Bandung Untuk Ekonomi Kreatif Dunia

Lima Panel Bandung Untuk Ekonomi Kreatif Dunia

SHARE
Ketua Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia Triawan Munaf,

Balkot.Com, Bandung – Pertemuan Persiapan Konferensi Dunia tentang Ekonomi Kreatif yang berlangsung di Bandung, sejak 5 -7 Desember 2017, berhasil merumuskan lima panel yang nantinya akan dibawa dalam pertemuan World Conference on Creative Economy (WCCE) Bali.

“Ada lima panel yang berhasil kita rumuskan selama tiga hari di Bandung. Lima panel itulah yang nanti akan kita bawa ke pertemuan World Conference on Creative Economy yang akan berlangsung di Bali per 4-6 Mei mendatang,” kata Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Republik lndonesia Triawan Munaf, di Bandung, Kamis (7/12).

Tim yang telah merumuskan 5 panel WCCE adalah 100 perwakilan yang berasal dari pemerintah, masyarakat sipil, sektor swasta, ahli, akademisi, organisasi internasional dan sejumlah media massa.

Panel pertama membahas bagaimana ekonomi kreatif dapat memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang, bagaimana pertukaran lintas budaya dalam kolaborasi ekonomi kreatif dapat memperkuat kohesi sosial yang menyatukan orang, dan bagaimana the internet of things (IoT) di antara perubahan digital kontemporer dapat membantu menghilangkan kendala untuk kewiraswastaan.

“Ekonomi kreatif adalah penggerak transformatif untuk gaya hidup perkotaan. Hal ini dapat mendorong pergeseran pola konsumsi dan produksi dari komoditas ke barang dan jasa lainnya. Hasil positif pada gabungan tingkat mikro dan makro-ekonomi dapat dimanfaatkan untuk keseluruhan ekonomi yang mempromosikan daur ulang dan dapat mengurangi jejak ekologi industri diperkotaan,“ terangnya.

Panel kedua berfokus pada kerangka peraturan yang didedikasikan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung bagi ekonomi kreatif, perlindungan dan promosi kekayaan intelektual (intellectual property –IP) dan dukungan sistem pembiayaan.

”Pemerintah harus memprioritaskan pembentukan peraturan untuk mempromosikan pengembangan sistem iP yang efektif. Sistem iP yang efektif harus menjadi bagian dari kerangka peraturan yang tepat karena mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif,” tambah Triawan.

Selanjutnya pada Panel ketiga adalah membahas potensi pasar yang belum dimanfaatkan dan strategi pemasaran yang efektif.

“Dengan membentuk Platform kemitraan Internasional yang menghubungkan pengusaha dalam ekonomi kreatif antar negara sehingga akan merangsang lebih banyak kreativitas dan talenta,” urainya.

Panel keempat membahas peran usaha kecil dan menengah, termasuk para pemula dalam pengembangan ekonomi kreatif. Mengidentifikasi nilai-nilai, hambatan dan kebutuhan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung (seperti melalui kota-kota kreatif) dan memberikan dukungan yang diperlukan untuk bakat melalui pelatihan dan pengembangan kapasitas.

“Ekonomi kreatif adalah sektor yang berorientasi pada rakyat yang sangat bergantung pada talenta manusia. Oleh karena itu, dibutuhkan aliran pasokan sumber daya manusia yang terampil dan / atau berpendidikan. Dalam hal ini, ada kebutuhan akan pendidikan berkualitas yang merangsang kreativitas,” jelas Triawan.

Pada panel kelima merumuskan ekonomi kreatif telah membawa era baru bisnis inklusif yang memberikan kesempatan yang sama bagi semua pemangku kepentingan. Dalam hal ini juga menjembatani komunikasi dan pemahaman antar negara dan budaya. Dengan pertumbuhan teknologi dan peningkatan pendapatan dari negara berkembang, nampak bahwa ekonomi kreatif akan menjadi masa depan ekonomi global.

Selain itu, semua peserta meminta organisasi internasional yang relevan tidak terbatas pada organisasi PBB, WIPO, WTO, Bank Dunia, OKl, dan regional (ASEAN, APEC, EU, AU dll) dan menyerukan jaringan global, inisiatif dan kemitraan seperti World Economic Forum, Global Compact, Majelis Umum Mitra, G20, C40, Amerika Serikat dan Pemerintah Daerah (UCLG), MlKT A, ASEM, dan lain-lain untuk mengatasi tantangan ekonomi kreatif dan menjadi bagian dari kemajuan ekonomi kreatif di panggung global.

”Semua peserta pada pertemuan persiapan WCCE kali ini menyadari tingginya nilai ekonomi kreatif dalam ekonomi global. Peserta sepakat untuk mempromosikan WCCE di Bali 4-6 Mei 2018 dan untuk berbagi hasil pertemuan persiapan WCCE yang diselenggarakan di Bandung. Semua peserta sepakat bahwa inklusivitas dan kemitraan merupakan kunci untuk mengembangkan ekonomi kreatif,” tutup Triawan.

Sementara itu, Ketua Panitia Penyelenggara WCCE Endah W. Sulistianti menjelaskan bahwa pertemuan ini dihadiri oleh lebih dari 100 peserta dalam dan luar negeri.

“Lebih dari 10 negara hadir berbagi keahlian dan pengetahuan mereka mengenai ekonomi kreatif di negara mereka,” jelas Endah, yang juga menjabat sebagai Deputi Hubungan Antar Lembaga dan Wilayah Bekraf. (Aris)