Home Ekonomi Nell Q Dimsum, Ditantang Reseller Untuk Memperbesar Usaha

Nell Q Dimsum, Ditantang Reseller Untuk Memperbesar Usaha

SHARE
Nelly Melyani tengah memperlihatkan dimsum olahannya yang diperdagangkan dengan lebel Nell Q Dimsum

Balkot.Com, Bandung – Walau masih terhitung wirausaha pemula Nelly Melyani, mantan aparatur sipil negara (ASN) Pemkot Bandung berharap bisa mendapatkan kredit usaha rakyat (KUR) dengan nilai ratusan juta rupiah.

Keinginan pemilik usaha Nell’ Q Dimsum tidak berlebihan, sebab dari usaha kuliner yang telah ditekuninya sejak 2012, omset yang didapatkan Nelly saat ini sudah mencapai Rp30-50 juta per bulannya.

“Saya ingin memperbesar rumah produksi saja, ingin punya rumah produksi yang besar sekalian melengkapi peralatan kerja,” katanya saat dihubungi di rumah produksi yang sekaligus tempat tinggal Komplek Bumi Parakan Asri, Cisarenten, Bandung, Jumat (27/4).

Keinginan sebagaimana disebutkan di atas itu, saat ini masih dipendam, sebab alumni universitas pasundan Bandung tidak berani pinjam uang di Bank, bunganya terlalu besar.

“Kalau memang ada KUR, saya berani. Sebab bunganya kecil kan. Tetapi apakah saya bisa mendapatkan pinjaman seratus atau dua ratus juga. Padahal saya hanya wirausaha pemula,” katanya.

Pekerja Nell Q Dimsum tengah mempersiapkan Dimsum pesanan reseller

Pinjaman itu akan digunakan Nelly untuk membangun tanah kosong di sebelah rumahnya sebagai dapur tambahan, plus untuk membeli peralatan kerja seperti Frozen, Mikser, Vakum dan lain sebagainya.

Rumah produksi tambahan dibutuhkan Nelly sebab sudah banyak reseller yang menantangnya untuk memproduksi secara besar-besaran.

“Ada reseller dari Ciwastra, yang berani pesan 20 juta per bulannya. Saya belum berani sebab saya harus melayani reseller lain,” katanya.

Jumlah reseller Nelly mencapai 40 orang, semua orang muda yang bertempat tinggal di beberapa kota di Indonesia, seperti Bali, Batam, Lombok, Purwokerto dan lain sebagainya.

Selain itu, Nelly juga punya satu konter di bandoengsche melk centrale (BMC), konter itu masih dipertahankan sebab sistemnya hanya titip barang.

Padahal awalnya, Nelly memang mempunyai beberapa konter seperti di Paris van Java, Bandung Indah Plaza, dan lain-lainnya.

“Saya lebih senang, memproduksi saja, biar saya bisa berbagi dengan calon-calon wirausaha yang lain,” kata ibu dua anak.

Usaha Nell’ Q Dimsum dirintis Nelly sejak 2012, awalnya hanya reseller cara menjualnya pun membuka lapak berupa meja di depan sekolah TK, SD atau ditawarkan keliling, masih di sekitar rumah.

Tahun 2014, teman pemilik Dimsum menutup usahanya, dan Nelly mengambil alihnya dengan membuat Dimsum sendiri.

“Lagi pula saya sudah diajarkan oleh teman reseller itu cara membuat dimsum,” kata Nelly yang kini juga menjadi ketua koperasi wirausaha baru jawa barat sejahtera (WJS).

Untuk memulai usahanya Nelly mendapatkan modal dari suami, Rp25 juta. Tahun 2014, sebagai WP Nelly mendapatkan pinjaman dari kementerian dengan nilai pinjaman Rp4 juta.

“Karena tidak mungkin membeli alat kerja dengan pinjaman 4 juta, uang itu akhirnya saya pergunakan untuk membeli bahan baku,” katanya.

Dua tahun kemudian mendapat pinjaman dari program kemitraan dari PT Jasa Raharja senilai Rp25 juta.

“Dari situ akhirnya saya bisa beli peralatan kerja. Sebab omset sudah mulai besar 5-20 juta rupiah per bulannya,” kisahnya.

Nelly bisa lebih maju dari temannya karena, membuat Dimsum dengan varian-varian baru yang lebih kekinian, seperti dimsum ayam, dimsum udang, dimsum nori, dimsum kepiting, hakau, hisip, lumpia, lumpia kulit tahu.

Nelly Melyani, owner Nell Q Dimsum saat tengah diwawancarai wartawan di rumah produksinya di kawasan Cisarenten, Bandung

“Yang saat ini lagi bestseller adalah lumpia dan lumpia kulit tahu,” katanya.

Sistem pemasarannya, lewat instagram, website, katering, dan lewat para reseller.

“60 persen saat ini pesanan mengalir lewat sosial media seperti WA (Whatsapp) atau Instagram. Hanya 40 persen yang lewat offline,”

Dimsum, saat ini sudah menjadi makanan favorit bagi masyarakat Indonesia. Panganan yang berasal dari Tiongkok, di Indonesia terbuat dari olahan daging ayam, udang, ikan.

Teksturnya yang lembut membuat membuat, makanan yang mirip-mirip somai ini akhirnya juga menjadi makanan favorit warga Indonesia, dan tidak ingin berhenti mengunyahnya.

“Kalau somai pakai aci kalau dimsum menggunakan tepung poteto,” jelasnya. (Ris)