Home Pendidikan Penjelasan Direktur Pos Terkait Lepasnya Sipadan dan Ligitan dari Indonesia

Penjelasan Direktur Pos Terkait Lepasnya Sipadan dan Ligitan dari Indonesia

SHARE
Direktur PT Pos Indonesia Gilarsi Wahju Sutijono, Plt Ketua PWI Pusat Sasongko Tedjo foto bersama dengan wartawan peserta pelatihan vokasi kewirausahaan bagi wartawan Indonesia, di Graha Pos Jl Banda, Bandung, Kamis (12/4).

Balkot.Com, Bandung – Walau menjadi satu-satunya perseroan terbatas tertua di Indonesia, usia 271 tahun. PT Pos Indonesia (PI) ternyata tidak bisa berbuat banyak, membantu bangsa dan negara dalam mempertahankan Pulau Sipadan dan Ligitan yang dicaplok Malaysia dalam sidang sengketa di Mahkamah Internasional tahun 1997, lalu.

“Itu kesalahan kita, kesalahan PT Pos Indonesia. Karena kita belum memberikan kode pos di kedua pulau tersebut,” kata Direktur PT Pos Indonesia Gilarsi Wahju Sutijono saat menjadi welcome speech di acara pelatihan vokasi kewirausahaan  bagi wartawan Indonesia, di Graha Pos Jl Banda, Bandung, Kamis (12/4).

Mantan CEO Perusahaan Busana Muslim itu yakin, jika PT Pos Indonesia sudah memiliki kode pos untuk dua pulau tersebut, 17 hakim yang menyidangkan kasus tersebut akan memenangkan Indonesia sebagai pemilik pulau itu.

“Malaysia bisa memenangkan sidang, karena pemerintah Inggris (penjajah Malaysia) telah melakukan tindakan administratif secara nyata di pulau tersebut, berupa penerbitan peraturan perlindungan satwa burung, pungutan pajak terhadap pengumpulan telur penyu pada tahun 1930,” katanya.

Dijelaskan Gilarsi, bicara sejarah Pos Indonesia, tidak bisa dipisahkan dari sejarah panjang Bangsa Indonesia. Hal tersebut dikarenakan layanan Pos terlahir jauh sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaan.

Perjalanan Pos Indonesia yang begitu panjang, telah melalui berbagai halang rintang dan pasang surut, namun berhasil dilalui dengan sangat baik.

Selama mengarungi perjalanan bisnisnya, berbagai hal dan peristiwa penting serta perubahan telah terjadi pada tubuh Pos Indonesia.

Seperti yang terjadi saat ini, dimana tantangan pasar yang berubah begitu cepat seiring dengan perkembangan zaman yang diikuti oleh teknologi dan pendukungnya.

Pos Indonesia, menurut Gilarsi sama dengan media yang ikut terdistorsi dengan perkembangan teknologi dan pendukungnya.

“Teknologi yang berkembang pesat, terus membuat pergeseran pasar diberbagai sektor bisnis, salah satunya bisnis Pos Indonesia,” ujar Gilarsi.

Pos Indonesia sebagai raksasa tidak bisa lagi tertidur jika tidak ingin terus tertinggal. Oleh karenanya, lanjut Gilarsi, Pos Indonesia harus bangkit dan mengejar sejumlah ketertinggalan menuju perubahan dan keluar sebagai pemenang.

“Merubah paradigma lama dengan bertransformasi menjadi perusahaan logistik dan menimbulkan optimisme untuk mewujudkan visi menjadi raksasa logistik dari timur,” jelas Gilarsi. (ariesmen)