Home Hukum & Kriminal Polri Dililit Lima Persoalan Besar

Polri Dililit Lima Persoalan Besar

SHARE
Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane

Balkot.Com, Bandung – Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane dalam catatan akhir tahun 2017 mengatakan ada lima persoalan besar yang perlu diantisipasi polisi agar, tahun 2018 Polri tidak dililing lima persoalan besar yang sebetulnya sudah berkembang dan membuat polri kelabakan.

“Di sepanjang 2017 kelima masalah tsb sudah muncul dan berkembang serta membuat Polri kelabakan menghadapinya,” kata Neta dalam rilis yang diterima balkot.com, Sabtu (30/12).

Dijelaskan Neta, kelima masalah besar itu adalah, makin maraknya peredaran narkoba, kemacetan lalulintas yang kian parah, ancaman terorisme dengan sasaran aparatur kepolisian, dan kejahatan geng motor yang kian sadis.

“Kelima masalah ini tidak sekadar masih menjadi pekerjaan rumah Polri di tahun 2018, tapi juga menjadi tanganan profesionalisme kepolisian dalam menjaga keamanan masyarakat,” tandasnya.

Tantangan ini kian berat karena di 2018, Polri akan menghadapi Pilkada Serentak di sejumlah daerah, dimana cukup banyak jenderal polisi yang dicalonkan PDIP sebagai kepala daerah.

Sehingga di tahun 2018 Polri tidak sekadar dituntut propesional, tapi juga harus proporsional dan mampu menjaga independensinya agar tidak terjadi benturan di masyarakat.

IPW mencatat, di sepanjang 2017 Polri melalui Kapolri Tito Karnavian kinerjanya patut diapresiasi.

Di era Tito, situasi keamanan relatif kondusif. Konflik di berbagai daerah bisa diantisipasi. Bahkan Pilgub Jakarta yang sempat sangat panas situasinya berhasil dikendalikan Polri dengan aman dan kondusif.

Akibat panasnya situasi Pilgub Jakarta hubungan Polri dengan kalangan ulama sempat memanas. Diharapkan di 2018 kedua belah pihak dapat memperbaiki komunikasinya sehingga situasi keamanan tetap kondusif.

IPW berharap di 2018, Polri dapat meningkatkan kinerja intelijennya agar bisa maksimal dalam melakukan deteksi dini dan antisipasi dini. Sehingga Polri tidak hanya berfungsi “sebagai pemadam kebakaran” dalam menjaga keamanan masyarakat.

Kedodorannya kinerja intelijen Polri di 2017 terlihat dari kasus pabrik narkoba di Diskotek MG Jakarta dan penjarahan toko pakaian oleh geng motor di Depok. Pabrik narkoba di Diskotek MG setelah beroperasi dua tahun baru tercium dan digerebek.

Kasus penjarahan di Depok, selain menunjukkan kelemahan intelijen, juga menunjukkan tidak maksimalnya patroli kepolisian di daerah rawan dan strategis. Padahal di Polres Depok sudah terbentuk “pasukan elit” tapi fungsinya tetap “sebagai pemadam kebakaran”.

Kasus penjarahan di Depok ini menjadi sebuah keprihatinan karena terjadi hanya beberapa minggu setelah Kapolri mengingatkan agar para kapolres maksimal dalam menjaga wilayahnya dari kejahatan jalanan dan kapolres yang tidak becus dalam menjaga wilayahnya akan dicopot.

Masalah yang tidak kalah pelik dan tak kunjung selesai dihadapi Polri hingga kini adalah masalah kemacetan lalulintas. IPW melihat kepolisian seperti sudah kehabisan akal untuk mensiasati kemacetan. Berbagai rekayasa lalulintas sudah dilakukan tapi kemacetan tetap “menjadi neraka”.

Melihat situasi yang kian parah ini jajaran kepolisian lalulintas harus berani mengeluarkan rekomendasi agar pemerintah segera membatasi produksi kendaraan bermotor, bila perlu melakukan moratoroium. Jika tidak, apapun rekayasa lalulintas yang dilakukan Polri tidak akan bermanfaat. Kemacetan tetap saja menjadi “neraka”.

Masih banyaknya polisi dan fasilitas kepolisian yang menjadi sasaran teroris perlu menjadi perhatian serius Polri untuk terus menerus mengingatkan jajarannya agar waspada, peka, terlatih, dan tidak ceroboh, terutama saat dinihari. Petugas piket harus tidur bergantian, sebab serangan teroris di tengah malam menjadi tren di 2017.

Secara kuantitas kasus terorisme di 2017 memang menurun tapi kualitasnya meningkat tajam. Hanya dengan bersenjatakan pisau teroris berani menyerang polisi, bahkan membakar kantor polisi.

Kasus bom Kampung Melayu, kasus penyerangan Polda Sumut, kasus penikaman polisi di Blok M, penyerangan Polres Banyumas, pembakaran kantor polisi di Sumbar, dll adalah fenomena baru terorisme di Indonesia yang patut dicermati dan diantisipasi Polri agar keamanan Indonesia di 2018 tetap kondusif. (Red)