Home Pendidikan YM Memulai Rangkaian Safari Menulis Tanpa Hoax

YM Memulai Rangkaian Safari Menulis Tanpa Hoax

SHARE
Yayasan Wiranatakusumah menyasar sejumlah pesantren – pesantren, Kelompok muda Islam, komunitas cyber creative dan komunitas lain untuk mengajarkan kelas menulis tanpa hoax.
Balkot.Com, Sukabumi – Yayasan Wiranatakusumah (YM), memulai rangkaian safari Menulis Tanpa Hoax ke 5 Kabupaten Kota di Jawa Barat. Tujuan mengajarkan generasi muda yang saat ini gandrung dengan sosial media untuk mengenali, mendeteksi dan memfilter berita hoax, Minggu (8/4).

Generasi muda yang disasar YM dalam kelas menulis ini, adalah pesantren, kelompok muda Islam, komunitas cyber creative dan komunitas lainnya.

Kota pertama yang dikunjungi Sukabumi setelah itu berlanjut ke Cianjur, Garut, Tasikmalaya dan Pangandaran. Dalam melaksanakan kegiatannya YM melibatkan Buana Indonesia Network (BIN).

Wakil Ketua Yayasan Wiranatakusumah, Moely Wiranatakusumah mengatakan di Sukabumi, Kelas menulis Tanpa Hoax ini digelar di dua tempat sekaligus dengan 2 tema berbeda.

Pagi hari, kelas menulis Tanpa Hoax Wiranatakusumah mengambil tema `Pelatihan Jurnalistik dan Pemanfaatan Sosial Media Untuk Generasi Muda Islam. Kelas ini berlangsung di Gedung Toserba Selamat Lantai 3 Kota Sukabumi. Sore hari, kelas berlangsung di Pesantren Al Fath, Kota Sukabumi.

Di Sukabumi YM dan BIN menggandeng HIMA Persis, Aliansi Solidaritas Muslim Sukabumi ( ASMMI ), Komunitas Facebook Sukabumi dan Komunitas Cyber Creative Bazit.

Moely menjelaskan safari menulis yang dilakukan YM adalah bentuk kepedulian yayasan pada kaum muda Islam dan kalangan pesantren di Jawa Barat.

“Kami lebih ke transfer ilmu kepada kalangan muda Islam dan santri – santri tentang bagaimana mengenali, mendeteksi dan memfilter berita – berita bohong, hoax, berita yang sifatnya adu domba,” katanya.

Setelah santri atau generasi muda Islam mampu mengenali berita hoax, diharapkan mereka bisa menjadi garda terdepan umat dalam melawan berita bohong, minimal di daerahnya masing-masing.

Generasi muda islam yang ikut dalam kelas menulis itu, selain akan mampu mengenali berita hoax mereka juga mendapatkan bekal ilmu jurnalistik.

Ketua PW HIMA ( Himpunan Mahasiswa ) Persis Jawa Barat, Alam Permana mengatakan, kaum muda Islam harus bisa menjadi benteng bagi berita hoax yang kerapkali dipakai sebagai alat mengadu domba antar kelompok.

Masih menurut Alam, Ilmu Jurnalistik bisa sangat berguna untuk filter terhadap informasi – informasi yang menyebar, baik di media massa dan sosial media.

“Kaum muda Islam kerapkali jadi sasaran empuk bagi penyebaran informasi Hoax. Jika sudah dibekali ilmu jurnalistik dan menguasai tips bagaimana menggunakan sosial media dengan benar, bisa menjadi benteng bagi umat,” tutupnya.

Sejalan dengan Alam, Muhammad Irfan, Komisaris Buana Indonesia Network menyebut, Jawa Barat adalah provinsi yang sangat besar pengguna sosial media nya. Bagi mereka ‘ produsen hoax’ ini merupakan sasaran empuk, terlebih di tahun politik seperti sekarang

“ Kita action, bentuk sebuah komunitas ini, bekali dengan ilmu jurnalistik yang mumpuni, mulai dari bagaimana mengkonfirmasi kebenaran satu informasi, memproduksi informasi positif yang kreatif sampai bagaimana kita meng create informasi – informasi kontra hoax. Kami sangat berharap komunitas Cyber Hijrah akan jadi komunitas terdepan dalam menjawab perang informasi, antara black information , white information, “ ujarnya.

Dilain tempat, Pimpinan Pondok Pesatren Al Fath, K.H Fajar Laksana mengatakan dirinya menyambut baik adanya gelaran ini. Hal ini dianggap penting dan perlu ditengah – tengah situasi merebaknya informasi Hoax.

“Pribahasa yang menyatakan tulisan itu lebih tajam dari pedang itu saat ini sangat terbukti. Tulisan bohong atau hoax adalah tulisan yang sengaja dibuat untuk menfitnah, provokasi, menakut – nakuti membuat resah pembaca,” katanya.

“Saat ini terbukti beberapa kasus menyebabkan keresahan se nusantara sampai -sampai polisi membuat program khusus anti hoax, ini karena hoax menyebabkan rasa ketakutan dimasyarakat, menimbulkan tindakan tindakan berlebihan di masyarakat bahkan menjadikan masyarakat menjadi phobia reaksional  yang berujung kepada tindakan anarkhis, radikalis, akibat adanya tulisan hoax,” pungkasnya. (Ris)